Pelita ABK: Menjadi Lentera Pendidikan Inklusif di Kuala Pembuang

KUALA PEMBUANG – Di tengah kesibukan mengajar di SMAN 1 Kuala Pembuang, Yulia Tenti Nova menemukan panggilan hati untuk menyalakan harapan bagi anak-anak penyandang disabilitas. Melalui Komunitas Pelita ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), Yulia bersama timnya berupaya menciptakan ruang belajar sekaligus penguatan karakter bagi anak-anak istimewa di Kuala Pembuang, Seruyan.

Kecintaan Yulia pada dunia pendidikan khusus bukan hal baru. Sebelumnya, guru yang pernah mengenyam pendidikan di Selandia Baru selama tujuh tahun ini, juga pernah mendapat beasiswa kuliah di Melbourne. Pengalaman ini membentuknya menjadi seorang motivator yang kini mendedikasikan diri pada pendidikan inklusif.

“Motivasi terbesar saya adalah anak saya sendiri yang merupakan penyandang Down Syndrome. Dari dia saya belajar bahwa ini bukan kekurangan, melainkan keistimewaan,” ujar Yulia Tenti Nova.

Pelita ABK saat ini memiliki 11 anak dengan beragam disabilitas yang didampingi oleh Yulia. Meskipun berstatus komunitas non-formal, Pelita ABK tetap menghadirkan kegiatan rutin setiap Jumat. Melalui sesi belajar literasi, membaca, hingga digital, mereka dibimbing untuk menari bersama, agar anak-anak bisa lebih percaya diri, berkembang, dan mencapai mimpi. “Tujuannya bukan sekadar mengejar kurikulum, tetapi membuat anak-anak bisa berkembang, merasa dihargai, dari punya ruang untuk percaya diri,” jelas Yulia.

Yulia mengakui bahwa tantangan untuk anak-anak disabilitas di Kalimantan sangat besar. Kurangnya tenaga pengajar yang memiliki kualifikasi khusus di Sekolah Luar Biasa (SLB), serta masih adanya stigma di masyarakat, sering kali membuat orang tua merasa kecewa. “Rata-rata anak saya dampingi memang dari SLB. Di komunitas ini saya pahami, kadang orang tua sibuk sehingga tidak bisa mengantar, maka saya beri waktu yang fleksibel,” katanya, menunjukkan solusi yang adaptif terhadap kondisi lokal.

Dalam upaya memperluas jangkauan advokasi, Yulia berencana menggelar perayaan Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada November. Ia berharap kegiatan ini dapat menyadarkan publik bahwa anak-anak berkebutuhan khusus juga memiliki potensi yang luar biasa. “Meskipun hanya lomba digital, yang penting anak-anak merasa dihargai,” tambahnya.

Pada akhirnya, Pelita ABK bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi sebuah gerakan untuk menjembatani kesenjangan disabilitas agar bisa berinteraksi, belajar, dan berkembang selayaknya anak-anak lain. Dengan semangat kekeluargaan dan dukungan tulus, Yulia dan timnya bertekad menjadikan Pelita ABK sebagai harapan bagi masa depan anak-anak istimewa di Kuala Pembuang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *