PALANGKA RAYA – Risiko kebakaran di Kota Palangka Raya meningkat seiring masuknya masa peralihan menuju musim kemarau. Cuaca yang semakin panas dan kondisi lingkungan yang mulai mengering membuat potensi api cepat menjalar. Terutama jika dipicu oleh pembakaran sampah sembarangan.
Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palangka Raya Arif M Norkim mengingatkan masyarakat agar lebih waspada dan tidak membakar sampah di area terbuka.
Menurut dia, kebiasaan tersebut kerap menjadi penyebab munculnya titik-titik kebakaran, khususnya di lahan kering dan sekitar permukiman.
“Memasuki masa transisi kemarau ini, kami mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah sembarangan. Cuaca yang mulai panas dan kondisi lingkungan yang lebih kering dapat membuat api cepat menjalar dan sulit dikendalikan,” ujarnya.
Ia menegaskan, jika pembakaran sampah terpaksa dilakukan, warga harus memastikan api tetap dalam pengawasan hingga benar-benar padam. Selain itu, perlu disiapkan alat pemadam sederhana seperti ember berisi air atau pasir untuk mengantisipasi keadaan darurat.
Menurut Arif, api yang ditinggalkan tanpa pengawasan menjadi salah satu penyebab utama kebakaran saat musim kemarau. Karena itu, ia mendorong masyarakat beralih ke metode pengelolaan sampah yang lebih aman dan ramah lingkungan, seperti memilah sampah, mendaur ulang, atau mengolah sampah organik menjadi kompos.
Arif menambahkan, pencegahan kebakaran merupakan tanggung jawab bersama. Banyak kasus kebakaran bermula dari kelalaian kecil yang kemudian menimbulkan kerugian besar, baik bagi lingkungan maupun masyarakat.
Terlebih, berdasarkan prakiraan BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau pada periode April hingga Juni 2026. Bahkan, kondisi kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal. (Red)
